Ketika Belajar, Apakah Kita Hanya Mengejar Nilai atau Benar-Benar Ingin Learn?

Saya rasa ini perlu dipertanyakan pada suatu waktu kepada diri Anda, sebagai siswa tentunya. Saat mempelajari sesuatu, matematika atau bahasa inggris, sejauh mana Anda merasakan ingin learn? Atau Anda hanya berusaha mempelajari sesuatu dengan tujuan untuk mendapatkan nilai yang baik?

Jujur yang saya rasakan ketika ingin mempelajari sesuatu sewaktu sekolah atau kuliah adalah saya belajar karena ingin mendapatkan nilai yang baik, bukan karena berhasrat untuk memperoleh pemahaman dari apa yang saya pelajari. Faktor nilai menjadi pemantik yang begitu kuat ketika saya mengutak atik rumus matematika serta menghafalkan kosakata bahasa Inggris.

Dan hasilnya? Boom, nilai saya memang bagus. Namun setelah mendapatkan nilai bagus tadi, semuanya kembali terlupakan. Rumus, cara mengerjakan soal, dan puluhan kosakata yang saya hafalkan semuanya begitu cepat sirna. Lho kok gitu ya?

Ayah saya pernah bercerita, bahwa ia mampu mengingat berbagai macam metode mengerjakan soal meskipun ia sudah setua ini, adalah karena ia menyukai apa yang ia kerjakan. Ia memang menyukai matematika, sehingga banyak sekali teman-temannya yang heran karena ia masih hafal betul rumus-rumus sulit yang ada di sekolah meski sekarang sudah kepala empat.

Advertisement

Ternyata disini letak kesalahannya. Saat mempelajari sesuatu, kita mengejar hasil atau memang kita menyukai proses? Kalau hanya mengejar hasil, maka kita dapat melupakan proses dan proses yang telah kita lalui merupakan hal yang semu. Padahal, proses tersebutlah yang penting. Dengan proses kita bisa berbagi pengalaman serta pengetahuan kepada orang lain. Dengan proses pula kita bisa lebih berbangga.

Lalu bagaimana jika kita harus melakukan sesuatu yang tidak kita sukai prosesnya? Jangan lakukan. Atau, berharaplah hasil seadanya dan ikuti prosesnya dengan baik. Terpaku pada hasil, dalam hal ini nilai akhir yang bagus, bisa membuat kita melupakan apa itu proses serta membuat kita tidak menyukai proses.

Ingin instan, begitulah kira-kira. Rasa “ingin instan” yang mengakar di seluruh penjuru Indonesia. Rasa ingin instan yang menghalalkan korupsi, pencurian, dan berbagai tindakan kriminal lain demi mendapatkan tujuan (kemewajan) dengan cepat.

Hebatnya, sadar atau tidak ternyata rasa ingin instan tersebut dibangun sejak kita sekolah dahulu. Rasa itu diawali dengan budaya mengejar nilai akhir tanpa memikirkan proses. Apakah kita mencontek atau tidak, kita tak terlalu peduli. Yang penting nilai bagus!

Silakan apakah Anda ingin menjadi siswa yang menjelma sebagai generasi penarget hasil, atau generasi penikmat proses. 🙂

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *